Palopo (Humas FEBI) — Kolaborasi akademik lintas perguruan tinggi kembali menunjukkan kiprahnya di forum internasional. Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo bersama Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten mempresentasikan hasil riset kolaboratif dalam SATU ICON International Conference 2026.
Riset berjudul “Building Visual Green Trust in Halal Culinary MSMEs Through Circular Business Practices” tersebut mengkaji praktik bisnis sirkular, kepercayaan hijau konsumen (green trust), sensitivitas harga, serta tata kelola limbah pada UMKM kuliner halal di Kota Palopo.
Tim penelitian melibatkan Adzan Noor Bakri dari UIN Palopo bersama tiga mahasiswa Program Studi Manajemen Bisnis Syariah, yaitu Indah Apriliana, Al Munawati Hafifa, dan Marsya Anggi Pratiwi. Kolaborasi tersebut juga melibatkan Suryani dan Muhamad Fadli Azim dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam riset ini. Selain terlibat dalam proses penelitian, mahasiswa memperoleh pengalaman membawa persoalan riil UMKM kuliner halal di Kota Palopo ke forum akademik internasional.
Dari Persoalan Limbah Menuju Kepercayaan Konsumen
Penelitian berangkat dari perkembangan UMKM kuliner yang tidak dapat dilepaskan dari persoalan penggunaan kemasan dan pengelolaan limbah. Sebagian pelaku usaha telah mulai menggunakan kemasan berbasis kertas, daun, atau menampilkan pesan eco-friendly, namun praktik pengelolaan sampah belum selalu berjalan konsisten.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek ramah lingkungan belum menjadi alasan utama konsumen muda dalam menentukan pilihan kuliner. Ajakan teman, viralitas media sosial, rasa, harga, kedekatan lokasi, dan jaminan halal masih menjadi pertimbangan yang lebih dominan.
Namun, ketika menilai apakah sebuah usaha benar-benar memiliki komitmen lingkungan, konsumen cenderung mengandalkan bukti yang dapat diamati secara langsung. Kemasan, kebersihan tempat usaha, cara memilah dan membuang sampah, hingga perilaku penjual dalam menangani limbah menjadi indikator penting dalam membentuk kepercayaan.
Dari temuan tersebut, tim peneliti menawarkan konsep Visual Green Trust, yaitu kepercayaan konsumen yang terbentuk melalui praktik lingkungan yang terlihat dan dapat diverifikasi secara langsung.
Konsep ini menegaskan bahwa klaim “ramah lingkungan” tidak cukup berhenti pada komunikasi pemasaran. Kepercayaan konsumen lebih kuat ketika pesan tersebut sesuai dengan praktik nyata yang mereka lihat.
Praktik Hijau Harus Tetap Terjangkau
Temuan lain menunjukkan bahwa konsumen muda memiliki batas toleransi terhadap kenaikan harga. Mereka dapat menerima penggunaan kemasan yang lebih baik, tetapi tidak selalu bersedia membayar jauh lebih mahal.
Karena itu, transisi menuju praktik bisnis yang lebih hijau tidak dapat dilakukan hanya dengan mengganti kemasan lalu membebankan seluruh biaya tambahan kepada konsumen.
Bagi UMKM, langkah yang lebih realistis adalah perubahan bertahap, seperti mengurangi plastik sekali pakai, memilih kemasan yang lebih sesuai untuk produk tertentu, memilah sampah, serta memperbaiki pengelolaan kebersihan.
Pendekatan ini memungkinkan pelaku usaha meningkatkan kredibilitas tanpa mengabaikan faktor harga, rasa, dan kenyamanan yang tetap menjadi pertimbangan utama konsumen.
Menguatkan Daya Saing UMKM Kuliner Halal
Riset ini menunjukkan bahwa praktik bisnis sirkular dapat menjadi nilai tambah bagi UMKM kuliner halal apabila diterapkan secara realistis dan konsisten.
Kehalalan produk tetap menjadi fondasi utama, sementara praktik lingkungan yang kredibel dapat memperkuat reputasi usaha di mata konsumen.
Penelitian juga menemukan bahwa praktik antar-UMKM masih beragam. Sebagian usaha masih dominan menggunakan plastik, sedangkan yang lain mulai menggunakan daun pisang, kotak berbahan kertas, melakukan pemilahan sampah, atau mengelola limbah secara mandiri.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penguatan praktik bisnis sirkular tidak cukup hanya bergantung pada inisiatif individu pelaku usaha.
Circular Economy Membutuhkan Ekosistem
Penelitian menempatkan pengelolaan kawasan sebagai bagian penting dalam keberhasilan praktik bisnis sirkular. UMKM, konsumen, pengelola kawasan, dan petugas kebersihan berada dalam satu sistem yang saling berkaitan.
Penggunaan kemasan yang lebih baik, misalnya, tidak akan memberikan dampak optimal apabila sampah akhirnya tetap tercampur saat dikumpulkan.
Karena itu, riset ini merekomendasikan penyediaan fasilitas pemilahan sampah, jadwal pengangkutan yang teratur, standar kebersihan bersama, monitoring sederhana, serta pengadaan kemasan secara kolektif untuk membantu menekan biaya bagi UMKM.
Petugas kebersihan juga perlu dilibatkan dalam perancangan sistem pengelolaan sampah karena mereka menjadi bagian penting dari operasional kawasan kuliner.
Membawa Persoalan Lokal ke Diskursus Global
Presentasi hasil penelitian dalam SATU ICON International Conference 2026 menunjukkan bahwa persoalan lokal UMKM dapat memiliki relevansi akademik yang lebih luas.
Penggunaan kemasan, pengelolaan limbah, perilaku konsumen muda, hingga tata kelola kawasan kuliner di Kota Palopo dapat menjadi bagian dari diskursus internasional mengenai circular business models, green entrepreneurship, halal industry, consumer trust, dan sustainable economy.
Kolaborasi UIN Palopo dan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten sekaligus memperlihatkan pentingnya sinergi lintas perguruan tinggi dalam menghasilkan riset yang tidak berhenti pada publikasi, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi praktis.
Bagi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Palopo, keterlibatan mahasiswa dalam penelitian ini menjadi bagian dari penguatan budaya akademik berbasis riset. Mahasiswa tidak hanya menjadi pembelajar di ruang kelas, tetapi turut terlibat dalam membaca persoalan masyarakat, mengolah data, dan mempresentasikan hasil penelitian di forum internasional.s
Melalui riset kolaboratif ini, UIN Palopo dan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menunjukkan bahwa isu UMKM halal, pengelolaan lingkungan, dan inovasi bisnis dapat dipertemukan dalam satu agenda riset yang relevan secara akademik dan praktis.
Riset tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi penelitian lanjutan, rekomendasi tata kelola kawasan kuliner, serta model penguatan UMKM halal yang lebih efisien, kredibel, dan tetap terjangkau bagi konsumen.s



